Harian Kita, Batam — Tingginya angka kematian akibat stroke di Indonesia mendorong ahli bedah saraf Prof. Satyanegara untuk mengusulkan formulasi penanganan terintegrasi. Pendekatan ini menggabungkan pencegahan, inovasi terapi, dan penguatan sumber daya manusia.
Pernyataan itu disampaikan saat Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-30 Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) di Batam, Kepulauan Riau.
Stroke Jadi Penyebab Kematian Tertinggi di RI
Stroke masih menjadi beban besar kesehatan nasional. Setiap menit keterlambatan penanganan, 1,9 juta sel otak bisa mati.
Di Indonesia, stroke menyumbang 11,2% dari total kecacatan dan 18,5% dari total kematian. Data Kemenkes mencatat sekitar 337.000 orang meninggal karena stroke setiap tahun.
Merespons hal ini, Kementerian Kesehatan RI memperkuat program pencegahan di hulu. Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, setelah menjangkau 70 juta penduduk di tahun pertama, target 2026 adalah 130 juta penduduk.
“Deteksi dini dan perubahan gaya hidup adalah kunci memutus rantai kasus stroke,” tegas Menkes Budi.
3 Pilar Penanganan Masa Depan ala Prof. Satyanegara
Prof. Satyanegara menekankan penanganan stroke tidak bisa parsial. Dibutuhkan pendekatan simultan.
“Penanganan masa depan adalah integrasi. Salah satunya lewat modifikasi genetik dan epigenetik untuk mengatur gen dan meningkatkan kesehatan tubuh secara alami,” ujarnya.
Beliau merinci 3 pilar utama:
- Modifikasi Epigenetik & Sinyal Kimia: Mengoptimalkan ekspresi gen untuk mencegah dan memperbaiki kerusakan sel otak.
- Teknologi Regeneratif & Implant: Termasuk regenerasi jaringan dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk diagnosis dan perencanaan terapi.
- Terapi Stimulasi: Stimulasi listrik pada saraf dan otot untuk pemulihan fungsi motorik pasien pasca-stroke.
“Tujuannya satu: menahan laju kasus stroke dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” tambahnya.
Tantangan SDM dan Infrastruktur
Selain terapi, pemerataan tenaga spesialis dan alat kesehatan jadi fokus.
PERSPEBSI mencatat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah Saraf kini sudah tidak hanya di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Kini telah ada di Medan, Makassar, dan Bali. Kurikulumnya juga ditingkatkan untuk penguasaan alat yang semakin high-tech.
Namun tantangan tetap ada di daerah dengan populasi kecil. “Menyiapkan fasilitas seperti MRI di daerah dengan penduduk sedikit masih sulit. Perlu integrasi pusat, daerah, dan institusi pendidikan,” kata Prof. Satyanegara.
Kesimpulan
Untuk menekan angka stroke dan menaikkan usia harapan hidup, diperlukan 3 langkah bersamaan: pencegahan masif, inovasi terapi terintegrasi, dan pemerataan SDM serta fasilitas.
“Upaya mencegah faktor risiko stroke harus terintegrasi. Baru kita bisa benar-benar menekan bebannya,” tutup Prof. Satyanegara.
Tentang PERSPEBSI: Organisasi profesi dokter spesialis bedah saraf Indonesia. PIT ke-30 menjadi forum membahas perkembangan ilmu bedah saraf dan tantangan kesehatan saraf nasional.(Redaksi)