Pergantian Menkeu dari Purbaya ke Suahasil Disorot, Mirae Asset Ingatkan Risiko Repricing
HARIAN KITA, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi perhatian utama pasar keuangan. Pasar tidak hanya melihat sosok, tetapi juga arah kebijakan fiskal dan kredibilitas pengelolaan APBN ke depan.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan penunjukan Suahasil Nazara memberikan sinyal positif berkat latar belakangnya di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan.
“Pergantian Menteri Keuangan ini menjadi sinyal positif bagi pasar, apalagi dengan latar belakang Suahasil Nazara di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan. Namun, yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully, Senin (15/9/2026).
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup relatif datar di level 6.535 setelah sempat terkoreksi lebih dari 2% secara intraday. Menurut Rully, respons tersebut menunjukkan pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal pasca pergantian Menkeu.
IHSG Sudah Re-rating 18%, Pasar Harus Selektif
Rully mencatat, IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18% sejak awal paruh kedua 2026. Kenaikan selanjutnya tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks.
“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” jelasnya.
Saat ini, arus dana asing masih terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan dan sejumlah saham komoditas.
Dari sisi global, Rully memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, yang relatif sudah diperhitungkan pasar atau priced in.
“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.
Sementara itu, penguatan rupiah masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif dan capital inflows, meski ketahanannya tetap bergantung pada arus dana. Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), koordinasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga kenaikan yield tetap gradual.
“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” jelas Rully.
Sektor Komoditas: Bukan Semua Akan Naik
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal, menilai peluang di sektor komoditas semakin bergantung pada dampak spesifik dari perubahan kebijakan pemerintah terhadap produksi, pricing, export flows, dan penerimaan negara.
Menurut Fauzan, pelonggaran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan perubahan yang otomatis menguntungkan seluruh sektor.
“Pelonggaran RKAB lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan sector-wide reset. Di nikel, tightness di sisi ore juga membuat posisi perusahaan tambang menjadi lebih kuat karena bargaining power meningkat, sementara beberapa perusahaan converter menghadapi risiko kenaikan biaya feedstock. Jadi, investor perlu melihat posisi dan fundamental masing-masing emiten, bukan hanya pergerakan harga komoditas,” ujar Fauzan.
Selain itu, rencana Commodity Exchange yang ditargetkan mulai berjalan pada 1 Januari 2027 berpotensi memperkuat price discovery dan membentuk referensi harga komoditas di dalam negeri. Namun dampaknya terhadap pricing power Indonesia akan bergantung pada likuiditas bursa.
“Commodity Exchange berpotensi menjadi langkah penting untuk meningkatkan price discovery di dalam negeri. Namun, dampaknya terhadap pricing power Indonesia akan sangat bergantung pada likuiditas bursa dan seberapa besar pelaku pasar menggunakan harga domestik tersebut sebagai benchmark,” jelas Fauzan.
“Dengan demikian, tidak semua saham komoditas akan bergerak dengan arah yang sama meskipun harga komoditasnya naik,” tutupnya.
Tentang PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia tergabung ke dalam salah satu kelompok usaha jasa keuangan non-bank global yaitu Mirae Asset Financial Group yang memiliki dana kelolaan sekitar US$803 miliar (setara Rp 13.537 triliun) pada akhir tahun lalu.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia merupakan salah satu Perusahaan efek terbesar dan terbaik di Indonesia dan menjadi anggota bursa teraktif di pasar saham karena volume dan frekuensi perdagangan saham nasabah perusahaan merupakan salah satu yang terbesar sejak 4 tahun terakhir.
Saat ini Mirae Asset memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Efek (PPE), Penjamin Emisi Efek (PEE), dan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD). Nilai modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) juga menunjukkan sehatnya operasional perusahaan dan menjadi salah satu yang terbesar. MKBD Mirae Asset di kisaran angka Rp1,23 triliun dalam setahun terakhir.
Angka tersebut jauh di atas ketentuan minimal yang ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan untuk perusahaan efek, yaitu Rp25 miliar, beserta ketentuan lain.(Redaksi)