HARIAN KITA, JAKARTA – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta korporasi multinasional yang berbisnis di Indonesia untuk naik level. Tidak cukup hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tapi harus ikut menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan.
Pernyataan itu dilontarkan Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Anthony Leong, saat menjadi pembicara di T50 Summit of World Construction and Mining Machinery Industry Indonesia Forum 2026 di Jakarta.
Forum bergengsi tersebut mempertemukan raksasa industri konstruksi, pertambangan, alat berat, hingga perusahaan pemasok dan pembiayaan dari berbagai negara.
Indonesia Bukan Sekadar Pasar
Anthony menegaskan, pintu Indonesia selalu terbuka untuk kerja sama global, namun dengan visi yang lebih besar.
“Pesan kami jelas. Indonesia terbuka untuk partnership. Tapi kami tidak ingin hanya jadi market. Kita mau build capability, ciptakan value added, dan tumbuh bareng,” kata Anthony Leong.
Menurutnya, program hilirisasi yang didorong pemerintah telah membuka rantai bisnis baru yang sangat panjang. Mulai dari alat berat, konstruksi, energi, jasa pemeliharaan, logistik, hingga sektor pembiayaan, teknologi digital, AI, dan konektivitas.
Karena itu, perusahaan asing yang berorientasi jangka panjang wajib berinvestasi pada tiga hal: pemasok lokal, SDM terampil, dan transfer pengetahuan.
“Kalau cuma jual alat, nilainya selesai dalam satu transaksi. Tapi kalau bangun ekosistem, nilainya bisa hidup 10 sampai 20 tahun,” ujarnya.
Peran HIPMI Sebagai Jembatan
Anthony menyebut BPP HIPMI siap menjadi jembatan (connector) sekaligus akselerator yang menghubungkan investor global dengan pengusaha daerah.
Jaringan HIPMI yang tersebar di 38 provinsi menjadi modal untuk memastikan pengusaha nasional, khususnya pengusaha muda, tidak menjadi penonton di negeri sendiri, melainkan masuk dalam rantai pasok global.
Untuk mempercepat kolaborasi, HIPMI menawarkan 5 fokus kerja sama konkret:
1. Pengembangan Supplier Lokal agar UMKM dan industri pendukung naik kelas.
2. Alih Teknologi dan Engineering untuk meningkatkan daya saing.
3. Skema Pembiayaan yang memudahkan pengadaan alat berat dan mesin.
4. Upskilling dan Sertifikasi tenaga kerja konstruksi dan tambang.
5. Pengembangan Pasar Bersama untuk ekspansi ke pasar regional.
Soroti Stabilitas Politik dan Apresiasi untuk Sufmi Dasco
Lebih lanjut, Anthony mengingatkan bahwa kunci masuknya investasi jangka panjang adalah kepastian kebijakan dan stabilitas politik.
Sinergi antara eksekutif, legislatif, dan dunia usaha dinilai menjadi prasyarat utama agar pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Pada kesempatan itu, Anthony juga memberikan apresiasi kepada Wakil Ketua DPR RI, *Sufmi Dasco Ahmad*, yang dinilai konsisten menjaga komunikasi dan stabilitas koordinasi di isu-isu strategis nasional.
“Politik yang stabil melahirkan trust. Dari trust lahir investasi. Dan investasi yang produktif akan menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan jangka panjang,” ucapnya.
Ia menutup dengan ajakan kolaboratif kepada seluruh pemain global: “Bring technology. Build capability. Create value. And let us build Indonesia together.” (Redaksi)